First Time ke Tanjung Bira

by - August 09, 2018

Ciyee yang baru ke bara, ciyee...
***

"Sancu ayok ke Bira".
"Iye, ayokmi"
"Betulankii?? nanti nd jadi lagi. Ndak pernahka kodong ke Bira. Ndak pernahka liat pasir putih".
"Masa?"
wkwwkwkwkkwkw.

***

Sabtu, 28 Juli 2018. Sedari malam sudah prepare. Pagi-pagi sudah ke tetangga (*red pasar) buat beli udang, sayur dan teman-temannya. Bergulat di dapur sampe jam 9. Tumis udang jadi, tempe goreng oke. Bekal selesai. Rencana berangkat jam 8 ndak terealisasi, suami sudah mulai ngeyel, ngomel dan bla-bla. Saya cuma bilang "ndak papa kak. yah kan yang penting jalan". kalau sudah bilang "kak" it means "hati-hati, ngomong sekali lagi saya embat lu" wkwkwkwkw. Intinya adalah kita mau jalan, jangan merusak mood dengan bla-bla yang ndak penting wkwkwkw.

Berangkat jam 10 an lewat, hampir jam 11-an malah. Bekal yang masih panas sudah saya buka setelah mobil meninggalkan rumah 5 menitan. Suami baru mau ngoceh langsung disuapin nasi biar diam. Bekal ludes 10 menit setelahnya. Doi kenyang, saya ngantuk. Sholat dzuhur di mesjid Gowa. 

Sepanjang perjalanan kami ndak ngantuk, beda banget kalau pulang kampung, bisa singgah 2 kali di jalan buat bobok dulu. Ada beberapa titik macet di takalar, bantaeng dan bulukumba. meski perjalanan panjang ini memakan waktu lama, tapi ndak berasa sama sekali, karena pemandangannya luar biasa. Sebelah kanan laut,sebelah kiri sawah, ada gunung, bukit. Semuanya serba hijau. Masya Allah, menyenangkan sekali. Selain pemandangan, si kakak juga bikin ketawa. Pembicaraan kami luar biasa lepas. Selepas semilir angin, bebas.

Setelah hampir masuk ke bira, kami pilih cari bekal dulu. Kemudian terpikir KFC, jadinya kami buka maps cari kfc. Dan alhamdulillah dapet, walopun jauh. Take away trus jalan lagi. Tanya dimana jalan masuk bira ke pak parkir, trus diarahkan dan ketemu. Alhamdulillah.

Saya mikirnya bentar lagi nyampe nih, kami masuk jam setengah 5-an dannnn ternyata itu masih jauhhh pemirsahhh. Kami singgah di mesjid pertama, trus ada gorengan jugaa, jadi beli lagi. Beli sedikit, pas dimakan ternyata enak, jadi balik beli lagi wkwkwkw. Jalan masuk ke bira lumayan macet bukan cuma  karena weekend tapi juga ada kirap obor Asian Games. Laluuu, saya panik karena suami bilang di bira bakal dipenuhin peserta kirap obor tersebut, otomatis bakal banyak penginapan yang penuh. Dan kami belum booking tempat hikss.. Saya buru-buru buka traveloka dan gilaaa, rate penginapan membumbung tinggi. banyak yang full booked juga. Tapi tenang, suami bilang insya Allah dapat kok, kalo ndak dapat yah bobo di mobil aja hahahha. Baiklahh,, suamiku tumben ndak khawatiran. Intinyaa sekali lagi adalah liburan. Urusan yang lain belakangan. Kita punya Allah yang besar kan.

Dan sekali lagi saya terkesima dengan pemandangan masuk ke bira. Luar biasa. Ayoklah ke Bira teman-teman. Ndak bakal nyesal insya Allah. Akhirnya setelah naik turun gunung, kami sudah melihat ada titik terang. Singgah sholat magrib di mesjid hijau, yang sudah dekat dari pantai.

Akhirnya masuk bira dan "Ohhh ini bira. Sancu, bali juga begini kah?" wkwkwkwkw. kode banget dah.

Dan memang kirap obornyaa membuat jalanan bira penuh. Banyak banget remaja putri yang pakai baju adat, sepertinya bakal nari deh. Mobil bergerak sedikit demi sedikit, dari gerbang bira masuk ke penginapan itu butuh waktu 40 menitan. Kami cari penginapan dulu, suami belok kanan dan cari bekas penginapan dia dulu. Katanya ada penginapan punya teman SMAnya. Dan ndak jauh ternyata dari pembelokan, kami ketemu sama penginapannya. Penginapannya sebelah kiri, namanyaa "Anda". yaps, seingat saya itu namanya dan ratenya 300 ribu. Penginapannya oke loh, bentukan paviliun, dua kamar dempetan gitu. Jadi lebih private, walau fasilitasnya biasa aja. Tapi sudah sangat mencukupi untuk short getaway kan? yang cuma semalam doang. Dan plusnya lagi, kita bisa check out sore. Oke bangetlah, ndak perlu dag dig dug ser siangnya. Toiletnya bersih, tenang aja. 

Karena sampenya malam, kita cuma masukkan barang trus ke pantai. Dan tanjung bira sudah full, ada panggung dan obor buat kirap. Ada puluhan putri-putri cantik yang sudah siap nari, riuh pantai malam itu benar-benar memenuhi pantai.

Namun riuh gembira menjelang kirap Obor tersebut hanya sekilas, bener2 flash gitu aja. Dan setelahnya hal paling bikin saya shock adalah suara tangis bener-bener riuh terdengar mengganti musik-musik tadi. Satu per satu anak-anak putri menangis sampe beberapa ada yang pingsan. Suasana mulai tidak kondusif. Saya hanya bisa mendengar sama-samar orang menjelaskan "mereka menangis karena tarian yang dipersiapkan berminggu-minggu tersebut ditampilkan terlalu sebentar. yahh tak sampe 5 menit". Saya bisa merasakan kekecawaan adik-adik ini. Yap, semoga panitia bisa memperbaiki hal tersebut kedepannya.



Karena terlalu crowded, kami akhirnya balik. Jalan pulang, saya sempetin beli topi pantai, daster dan liat2 souvenir-souvenir lucu. Sampe di kamar, bebersih trus kelonan sama kakak wkwkwkw. Rencananya besok pagi mau liat sunrise. Dannnn, keesokan paginya kami subuhnya jam 6. Batal lah niat kami lihat sunrise. Trus sambil suami beberes, saya ke halaman menikmati hangat sinar mentari. Dan suasananya menyenangkan. Saya selalu suka sinar matahari pagi, langit biru dan rindang pohon, hal tersebut bisa membawa saya ke masa kanak-kanak dulu. Sinar matahari yang menelusup diantara celah daun-daun kemudian menerpa wajah, itu priceless banget. Tempat ini menyenangkan, asalkan kita punya cara untuk membuatnya lebih istimewa. 

Gerbang Penginapan. Keesokan paginya.
Nih kamar kami. Nomor 16. Di dalam, suami lagi beberes hehe.

Jalan menuju ke pantai. jalan-jalan sebentar, nyampe deh ke pantai
Kami menyempatkan sebentar ke bira, tapi dipantai terlalu ramai dan sudah mulai panas. Pokoknya suasana pantai bira pagi itu kurang mendukung untuk saya refreshing begitu juga dengan suami. Kami akhirnya balik dan masuk mobil menuju bara. Jarak pantai Bara dan Bira sebenarnya tidak jauh, namun jalur menuju kesana yang terjal dan belum beraspal membuat Bara jadi lebih sepi. Dan cottage serta bungalows disana tergolong selalu full booked. Soalnya ada bungalows yang saya tanyain setiap weekend pasti dibilangnya full teross..

Sesampainya di Bara, kami parkir mobil. Jarak dari tempat parkir ke pantai juga lumayan deket. Jalan kaki sebentar, nyampe deh. Dan emang pantai ini lebih tenang. Cocok banget buat melepas penat. Tak lama kami di pantai, seorang bapak sudah nyamperin menawarkan transportasi ke pulau Liukang, pulau terdekat dari bara. Saya kemudian tanya harga dan langsung ngomong ke suami, dan bisa ditebak, doi meragukan kemampuan saya menyeberangi lautan dengan kapal kayu tersebut. "Padahal saya sudah bilang kalau waktu kuliah saya sudah sering nyeberang pulau buat snorkeling atau praktek lapangan" Gemesh gue. Setelah membujuk, akhirnya doi OK-in. wkwkwkwk. dari 400 kami tawar jadi 250. Kalo gak salah yah, kejadiannya 3 bulan lalu jadi sudah mulai buram. Perjalanan ini belum ada list to do-nya, jadi sangat-sangat menyenangkan. Kegiatannya semua berdasarkan impuls yang datang hahahahah.

Liukang Island
Sebelum nyampe ke pulau Liukang, kami ke penangkaran Penyu, sempatin berenang sama penyu gede. Geli sih awalnya, tapi bisa dilawan juga perasaan geli itu. Abis dari penangkaran, kami snorkeling sebentaran. Snorkelingnya asli hanya sekejap, karena saya masih agak parno tapi kepengen juga. Jadi gimana dong? sebenranya saya itu salah menangkap maksud si adek kapten, dia bilang ke kami kalau kapalnya akan meninggalkan kami jadi kalau kami sudah capek snorkeling, sisa ngasih kode dengan melambaikan tangan dan dia bakal menjemput kita. Mendengar itu saya worry dong,, ntar kalo ada apa-apa piye?? apa lagi itu snorkelingnya lumayan jauh dari bibir pantai. Sudahlah, kami cuma ngapung sekitaran kapal. 30 menitan, padahal saya masih mau lama-lama main sama ikan-ikan. Setelah itu, kapal melaju lagi, membawa kami ke liukang. 

Kesan pertama di liukang?? pasirnya kasar, ndak begitu ramah sama telapak kaki. Sebenarnya biasa aja sih, cuacanya juga sudah mulai panas. Aktivitas pengunjung disini selain foto-foto, ada yang main bola, nongkrong sambil ngobrol-ngobrol dan bule-bule me time dengan membaca. Sumpehh dahhh,, disaat orang-orang Indonesia sibuk sama gadgetnya, bapak-ibu bule ini masih asyik sama buku kunonya. Kuno?? iya warnanya sudah coklat, lecek. Toppp boss...

Kira-kira jam 1-an kami balik, kemudian sisa waktu kami habiskan di Bara. Jam 4-nya kami balik ke penginapan, beberes dan meluncur pulang ke Makassar. Liburan ke Bira?? SANGAT MENYENANGKAN. Mau lagi?? mauuu... :D


You May Also Like

0 comments