Before August End

by - September 03, 2018

Photo by Paul Talbot on Unsplash
Sebelum melupakan banyak hal, hari ini saya akan bercerita tentang apa saja yang sudah terlalui di agustus tahun ini, 2018. Mengawali Agustus di Jakarta, perjalanan dinas selama seminggu yang lumayan menyenangkan. Menikmati suasana kantor orang yang begitu berbeda dengan kantor di Makassar. Pikiran untuk pindah ke kota ini mulai bolak balik menyapa. Lalu dilanjutkan dengan refreshing belanja barang murah di beberapa tempat terkenal di ibu kota. Mengunjungi mall-mall dan makan-makanan pedas. Perjalanan ke Jakarta selalu menyenangkan, rasanya mau balik lagi dan lagi.

Photo by Wout Vanacker on Unsplash
Kembang api pertama di Agustus ini, Test HSG. Prosesnya bener-bener nguras emosi, namanya juga pertama kali. Di step ini, saya seperti ditoyor oleh-Nya. "Nih., kamu itu ndak bisa tahu masa depan, jangankan masa depan, 5 menit setelah ini, kamu ndak bisa tahu". Yah, sesaat sebelum masuk ruang tindakan, hal tersebut berdesir di entah ruang mana dalam diri saya. Bahwa saya akan menerima sesuatu yang entah akan seperti apa. Yah, perasaan seperti itu jarang, bahkan sangat jarang. Di beberapa detik tersebut, perasaan yang sampai saat ini bisa saya rasakan. Perasaan takut, tidak tahu, tapi juga sedikit berani, tangguh. Saya berada di titik kalibrasi. Mengagumkan.

Saat berbaring diatas meja radiologi tersebut, kemudian dokter menyuruh saya menaikkan kaki, kemudian ditekuk, posisi seperti orang akan melahirkan, yah tentu saja saya pernah menyaksikan orang lahiran, pertama di tv dan setelahnya saat mama saya melahirkan adek di rumah. Tapi posisi saya kemarin itu lebih menyiksa karna lutut harus ditekuk sampai rapat dengan paha lalu tangan  harus memegang tumit. KERAM. Semprotan kontras pertama gagal. Tidak ada yang masuk sama sekali. Dokter kemudian mengatakan "Berdoa yah bu, biar kali ini berhasil" dengan nada tegang. Sejak awal dokter sudah menyuruh berdoa, kemudian mengingatkan berdoa lagi saat beliau kesulitan memasukkan kateter. Dan mengulanginya lagi beberapa kali. Yah, mendengar beliau mengulang-ulang kata "berdoa", saya tahu saya dalam masalah. Namun saya tidak deg-degan sama sekali. Ketakutan saya sirna di awal proses HSG. Saat saya berbaring, saya sudah pasrah. Desiran sebelumnya sepertinya menyedot habis ketakutan dan kegelisahan saya. Saya pasrah. Saya sudah siap menerima masalah. Yah, tugas saya adalah menerima. Dan menerima tak perlu rasa takut dan was-was. Yang membuat takut dan was-was adalah saat saya harus menebak dan tak sabar menunggu "masalah"-Nya.

Hasilnya?? yah didalam amplop coklat, dokter mengeluarkan hasilnya. Kiri paten, kanannya tersumbat. Tak ada cairan kontras yang masuk. Bisa jadi perlengketan atau entahlah. Saya??? biasa aja. hahaha. Saya mau senyum, tapi masih mules nahan perut yang sedikit ngilu. Rahimnya nukik, hampir 90 derajat, makanya kateternya susah dimasukin. Ok, hasil diagnosa selanjutnya. Dan kemudian dokter bilang, besok sudah bisa ke dokter Rina untuk menunjukkan hasilnya. Saya tanya apa harus besok dok? karena di kepala saya, besok saya mau tidur seharian.

Saya menerima masalah-Nya. Namun sebagai manusia yang Melankolis dan dominan feeling menurut hasil test sidik jari *hahaha. Saya diharuskan sedikit drama sepertinya, rasanya bukan sifat orang "feeling" kalau habis dapat masalah terus biasa aja. Harus ada fase kontemplasi yang dalam, deep & long me time. hahahahhaa. Sudahlah, ternyata besoknya saya tidak bisa tidur seharian, saya bisa masuk kantor, even telat. Masuk jam 10. Padahal sudah minta izin ndak masuk. Tapi yahh gitu deh. Mood. Pointnya : Masalah yah masalah, diterima saja. sudah seharusnya. nature. Ndak perlu drama berepisode. selow. terus tertawakan sikap menye-menye saya yang tak guna itu. Case closed.

Semalam, saya dan suami ngobrol dalam perjalanan pulang. Abis nonton searching. Abis makan nasi padang juga. hahaha.

Saya : "Sancu, jangan mi ke dokter minggu depan deh"
Suami : "Heh, kenapa ki baru kepikiran begitu? abis ki baca apa? abis ngobrol sama Un" 
Saya : "Heh,, ihhhh lama ma kali ndak mau ke dokter. cuma kita tiap kali diajak, semangat sekali, jadi pergima."
Suami : "ihhh, malah kita itu yang sensi sekali klo mau ke dokter. pasti pke acara berantem dulu. Usaha mki dulu sancu, perbaiki ibadah sama Allah, perbaiki makan"
Saya : "Iya dihh,, bikin jadwal. Temanika lari2 kalo pagi, janganki tidur."
Suami : "Iyee."


Hahahaha.
Percakapan ini sebenarnya sudah berulang-ulang, selalu. Bisa hidup sesuai plan itu paling banter cuma 2 hari. Setelahnya kembali lagi ke kesemrawutan dan seenaknya kami.

***

Yah... Agustus ini banyak sekali kembang api. Memenuhi ruang dalam diri saya. Entah dimana saja itu, saya tidak tahu. Tapi sedikit-sedikit saya menyadari kalau saya berubah. Berubah yang banyak. Saya tidak lagi mencemaskan permasalahan yang ada. Saya tidak lagi tenggelam dalam drama karena "feeling", walau masih ada beberapa kali saya missed. Saya sudah bisa menerima bahwa saya tidak bisa dan tak harus membahagiakan semua orang yang saya sayangi, begitupun sebaliknya, orang-orang yang saya sayangi tidak bisa membahagiakan saya setiap waktu. Saya dan mereka tugasnya menerima masalah. Yah, itu konsep-Nya. Saya hanya bisa berdoa dan pasrah. Menerima.

Oh iyaa, level cuek dan nyolot saya juga bertambah. Dipekerjaan maksudnya. Sepetinya kantor juga turut andil membentuk saya. Merubah saya dari si lugu fresh graduate jadi BIO yang cuek dan jutek. Yah, teman-teman baru saya bilang kalau saya "jutek, suka mara-marah, bikin takut" OK, padahal saya merasa saya ini ramah-ramah saja. Mungkin itu yang mereka lihat, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali mencoba lebih ramah dan sedikit lebih sabar menghadapi kondisi kantor yang berubah-ubah,

Namun satu yang saya suka dari perubahan ini, saya tidak lagi berfokus pada penilaian user. Jika tahun lalu nilai "Customer Oriented" saya paling tinggi, saya rasa tahun ini akan berbeda. Yah, saya bekerja untuk sesuatu yang menurut saya benar dan seharusnya dilakukan. kembali lagi, menurut yang saya pahami dan pelajari. Saya akan mengakui saya salah, dan saya akan suka jika user juga mengakui mereka salah. Once itu tidak terjadi, saya tahu bahwa standar tidak terletak pada User, tapi pada sistem. RULE. Saya bisa berdiri di kaki saya, sendiri tak mengapa, dan menghadapinya. Saya sudah tidak sedih lagi jika mendengar hal "meremehkan" dan lain sebagainya. Saya tidak peduli. 

Okay, saya mau meeting. Sudah dulu. Seben kita lanjut. Saya masih mau cerita perihal kerjaan,.

Photo by Ethan Hoover on Unsplash

You May Also Like

0 comments